Kamis, 18 Februari 2010

See the sound exhibition di akhir tahun 2009

MUSIK : UNIVERSALITAS DALAM NADA DAN IRAMA


Sebuah mobil sporty pelan melintas. Meski kaca mobil tertutup rapat, “jedhag – jedhug”, musiknya terdengar dari luar. Si pengemudi, anak muda, sendirian lagi, kepalanya terangguk – angguk tak hneti – hentinya ikuti irama music, mirip burung Kakatua sehabis mnyantap pisang dan kates jingga. Sementara di pinggir trotoar, pengemis renta juga bermusik, namun melalui bunyi keroncongan perut yang jarang terisi. “ Musik itu bisa bunyi – bisa suara, musik itu bernada dan berirama”, begitu kata Pak Roeman saat mengajar mata kuliah Apresiasi Seni Musik di ASRI Gampingan 1976. Anak muda yang gigih mengangguk – angguk adalah penikmat music, dan pengemis renta yang perutnya keroncongan adalah penderita musik.
Musik itu universal”, ucap Om Adhi MS dalam wawancara televise saat mendirikan Twlight Orchestra 1992, “Musik mampu melintas batas ras, bangsa, suku, generasi, usia, jenis kelamin.” Bayti umur 2 bulan sudah bisatertawa menikmati bunyi “icik – icik” mainan penghibur bayi, ataupun dentang – dentang alunan music dari mainan putar boneka keci; pebalet. Remaja generasi Pak Dhe tatkala remaja dulu: The Beatles (1962- 1970). Minat anak muda Indonesia terhadap music klasik barat abad 17 – 18 makin meningkat saja akhir – akhir ini.
Musik mampu member inspirasi tentang banyak hal yang terkait dengan kehidupan manusia: tentang kebaikan, perdamaian, semangat hidup, perjuangan keadilan, kenangan, masa silam, harapan masa depan, khayalan, puja- puji keagamaan, dan sebagainya. Lagu anak – anak “ Bintang Kecil “ , Ibu Kasur, 1955, member inspirasi daya khayal dan wawasan sederhana tentang diri, langit, dan bintang sebagai kesatuan alam. Lagu “Imagine” , John Lennon, 1978, member inspirasi tentang kemanusiaam dan perdamaia. Lima tahun sebelum Neil Amstrong da Apollo 11 mendarat di bulan, pada tahun 1969, Ernie Djohan – penyanyi poip asal Minang – telah “mendahului sampai rembulan” melalui lagu “ Tamasya ke Bulan”. Apakah Ernie Djohan telah member inspirasi semangat antariksa kepada astronaut USA sehingga sukses menjejakkan kakinyadi bulan? Sepertinya terlalu jauh nyambungnya……tapi siapa tahu?

MUSIK: INSPIRASI DALAM KEHIDUPAN
Setiap orang, apalagi yang berkiprah di jalur kreatif, senantiasa ingin berkarya. Dorongan ini ada karena pada dasarnya manusia memiliki daya imajinasi, daya fantasi, serta daya kreasi, dengan tingkatan kadar yang saling beda. Dengan berkarya, diri dapat teraktualisasi. Melaui karya, diribia member sumbangsih nilai – nilai positif bagi sesame insane, lingkungan, alam, juga mungkin bias menginspirasi orang lain untuk berbuat, berkipraj, berkarya dengan sikap dan cara masing – masing. Sesederhana apapun, diri masing – masing ingin berkiprah semampunya .

Seorang pengamen setengah gagu dengan busana rapi beraksi di bus Sumber Kencono jalur Surabaya – Jogja. Berbekal kemampuan nyanyi pas – pasan dengan jenis suara “bindheng” dan beralat musik “perkusi” tepuk tangan saja, ia mendapat apresiasi sebagian penumpang bus yang nampaknya memaklumi keterbatasan vokal dan musiknya. Kesuksesannya menginspirasi pengamen lain yang agak idiot, tanpa alat bunyi – bunyian appaun, tanpa tepuk tangan sedikitpun, hanya berbekal pura- pura gagu menggumam – gumam tak jelas seakan lantunan lirik lagu yang juga tak popular – disertai senjata andalannya : pakaian sangat kumuh, badan bau, dan bibir senantiasa teteskan air lius. Keduanya cukup berhasil meraup koin penumpang bus yang dermawan. Yang pertama (setengah gagu, rapi) mendapat koin atas dasar belas kasih murni. Yang kedua (pura- pura gagu, kumuh, bau) mendapat koin atas dasar rasa jijik. Namun setidaknya dengan kemampuan sangat terbataspun, keduanya masih berupaya cukup gigih “berkreasi”, dan mudah – mudahan koin yang didapat dipergunakan untuk hal – hal yang bermanfaat, misal ikut serta nyemplungi Koin Peduli Prita….

MUSIK : INSPIRASI DALAM BERKARYA

Bagi insane DKV, musik dan nirmana (desain elelmenter) ibarat saling bersebelahan dipegang tangan. Keduanya cukup banyak memiliki kesamaan unsure, seperti value (tingkatan, tangga), irama (laras, kontras), repetisi (irama laras monoton, tunggal), interval (rapat, renggang), unity (kesatuan unsure). Selanjutnya dalam proses aplikasikarya gambar, desain grafis, dkv, ada pula kesamaan lanjut, seperti aspek pola komposisi (pola dasar tata unsure), corak, gaya, aliran. Semua unsure dan aspek tersebut baru bisa dijalankan atau diolah secara terpadu dan harmonis bila dihadirkan satu aspek inti yang lebih mendasar dan selalu mengawali proses berkarya, yakni gagasan kreatif. Ibarat konser musik, alat musik sudah disiapkan, sound system sudah dihidupkan, tata lighting sudah dinyalakan, pemusik sudah memegang alat, tinggal “jreng”. Namun tanpa keputusan gagasan tentang pilihan tema musik / lirik, urutan lagu, corak musik, komposisi permainan, gaya tampilan, maka niscaya pemusik akan bermain sendiri – sendiri tanpa kesatuan dan harmoni.

Gagasan kreatif, dari dua aspek: gagasan dan kretifitas. Ya, dengan dua aspek penting inilah sebuah karya dapat tersaji sesuai harapan (laras, indah, unik, menarik, dramatik, ataupun satirstik). Oleh karenanyalah muncul istilah “insane seni, insane kreatif”, seperti yang diungkapkan Pak Usmar Ismail pada acara pembukaan FFI di Jakarta 1974. Lazimnya, manusia punya keterbatasan diri. Gagasan dan kreativitas hidup dengan daya, dan yang namanya daya terkadang kurang lancer, terkadang seret, bahkan mampet. Bila keadaan sedang seperti ini, berbagai cara akan dilakukan untuk melancarkan munculnya inspirasi gagasan kreatif. Jaman ASRI Gampingan dulu, ada insan seni yang merenung – renung di bawah pohon beringin depan perpustakaan, ada yang naik towerair kampus, ada yang nongkrong bengong di teras warung Bu Marto samping Galeri Amri Yahya, atau nongkrong tengah malam di angkring kopi Mbah Wongso perempatan Wirbrajan berjam – jam bahkan lanjut malam – malam berikutnya. “Cari inspirasi….cari ide”, demikian alasan mereka sembari menerawang kosong langit kelam tak berbintang. Aapakah inspirasi lantas turun dan ide lantas muncul? Belum tentu…
Yang kurang terbiasa nongkrong, lebih suka ditemani radio dua band atau kaset tape dengan speaker cap gentong. Ada lagi ini, cari inspirasi dengan rajin jalan – jalan setiap senja – asal pas tidak hujan deras- jalur Wirobrajan – Mlioboro pp, dan insane ini cukup luar biasa apresiasi musiknya, mungkin didapat dari musik yang dilantunkan dari setiap took yang dilewatinya sepanjang 2 km selama bertahun – tahun. Ternyata cukup susah juga ya..menunggu turunnya wangsit, “ilham”, bisikan hati, atau apapun istilahnya.

Itu dulu...sekarang beda jaman, beda cara, beda gaya. Dulu musik cap gentong, kini MP3. Dulu PilPen (pilihan lagu pendengar radio), sekarang teleRequest radio dan TV lewat telpon dan HP. Seperti biasa, selalu ada perkembangan…Musik bukan seledar pemancing turunnya inspirasi, juga bukan sekedar pengiring atau pendamping proses berkreasi visual, namun ternyata bisa sebagai INSPIRASI itu sendiri, dengan kata lain musik sebagai sumber inspirasi . Dalam hal ini musik dan aspek musical diolahkreasikan sebagai konstruksi utama gagasan visual, sedangkan tema yang diangkat bisa apa saja yang terkait dengan aspek kehidupan manusia. Upaya semacam ini dalam bentuk sederhana pernah dicobalkukan anatar tahun 1973 – 1978 oleh kelompok kolaborasi ASRI – AMI dalam bentuk karya non dialog Teater Rupa – Musik yang memadukan aspek Nirmana, musikal dan teatrikal. Dalam masa yang hampir sama, kelompok musik “Soekar Madjoe” ASRI yang menyadari keterbatasan kemampuan bermusiknya (ditengah jaman penyanyi dan pemusik berpenampilan dadndan rapi, necis) dengan amat “pe de” berani tampil nyentrik, “aeng”, warna – warni no- matching, meriah, kadang lucu, namun tidak “saru” seperti kelompok musik Hadi Suseno. Tampilan nyentrik “aeng” tetap berusaha dilaraskan dengan tema musik / lirik, dengan “suasana“ lagu yang dimainkan.

Musik sebagai sumber inspirasi visual, dimungkinkan oleh adanya universalitas dan kesamaan unsure dasar musik dan nirmana. Karena musik itu abstrak (tak berwujud penampakan) maka olah visualnya cukup banyak menggunakan metode simbolisasi dan metafora, agar makna yang juga abstrak dapat tersampaikan. Sementara….kehidupan di alam fana dunia ini, alam baka, alam surga nanti, sesungguhnya – wahai manusia- penuh dengan simbol dan metafor bagi kita yang masih hidup ini.
Nah, sepertinya sudah mulai nyambung sekarang….
See The Sound

Asnar Zacky



Motion by Riyo R. dan Riswanto
Music by Ijal

Tidak ada komentar:

Posting Komentar